mikrobioma usus

bagaimana bakteri di perut menentukan suasana hati dan kecerdasan

mikrobioma usus
I

Pernahkah kita bangun pagi, tidur sudah cukup, tapi entah kenapa suasana hati langsung berantakan? Atau mungkin tiba-tiba merasa susah sekali fokus menyelesaikan pekerjaan, seolah-olah ada kabut tebal di dalam otak kita? Biasanya, hal pertama yang kita lakukan adalah menyalahkan keadaan. Kita mengira itu karena stres kerjaan, kurang minum kopi, atau cuaca yang lagi tidak asyik. Tapi, mari kita pikirkan kemungkinan lain yang lebih radikal. Bagaimana kalau pelakunya bukan bos yang galak atau deadline yang menumpuk? Bagaimana kalau ternyata, suasana hati dan kejernihan pikiran kita sedang dikendalikan oleh triliunan "alien" tak kasat mata yang hidup di dalam perut kita? Terdengar seperti premis film fiksi ilmiah kelas B, ya? Namun, mari kita luangkan waktu sejenak untuk membedah fenomena aneh yang tersembunyi di dalam tubuh kita ini.

II

Dulu sekali, di buku-buku pelajaran biologi sekolah, usus kita cuma dianggap sebagai mesin penggiling yang membosankan. Makanan masuk, diproses, nutrisinya diserap, lalu sisanya dibuang. Selesai. Secara historis, bapak kedokteran kuno seperti Hippocrates sebenarnya pernah curiga dan menyatakan bahwa "semua penyakit bermula dari usus". Sayangnya, selama berabad-abad, sains modern mengabaikan intuisi tersebut. Kita terlalu sibuk mengagungkan otak di kepala sebagai satu-satunya pusat kendali tubuh manusia. Sampai akhirnya, beberapa tahun belakangan, para ilmuwan menemukan sebuah "jalan tol" rahasia di dalam anatomi kita. Namanya saraf vagus atau vagus nerve. Saraf ini adalah kabel data raksasa yang menghubungkan otak langsung ke perut kita. Dan tebak apa temuan yang paling mengejutkan? Ternyata, lalu lintas informasi di jalan tol ini lebih banyak mengalir dari perut ke otak, bukan sebaliknya. Perut kita rajin sekali mengirim pesan ke atas. Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang sedang sibuk mengetik pesan-pesan itu?

III

Nah, di sinilah ceritanya menjadi semakin seru sekaligus sedikit menakutkan. Kalau teman-teman pernah membaca artikel psikologi atau kesehatan mental, kita pasti akrab dengan zat kimia bernama serotonin dan dopamin. Ini adalah molekul kebahagiaan kita. Molekul yang memberi kita motivasi untuk bangun dari tempat tidur. Selama ini, kita yakin seratus persen kalau zat-zat canggih ini diproduksi eksklusif oleh otak. Logis, kan? Suasana hati urusannya pasti sama kepala. Tapi, sains dengan kejam mematahkan asumsi itu. Ternyata, sekitar 90 persen serotonin di tubuh kita sama sekali tidak dibuat di dalam tengkorak. Zat itu diproduksi di ruang gelap gulita di dalam usus kita. Otak kita mungkin bertindak sebagai manajer, tapi pabrik kebahagiaannya ternyata ada di perut. Lalu, sebuah misteri besar muncul: jika bukan sel-sel otak kita yang meracik zat kebahagiaan ini, lantas siapa pekerjanya? Siapa yang memegang kendali untuk menentukan apakah hari ini kita merasa pintar, ceria, atau malah gloomy tanpa alasan?

IV

Jawabannya adalah mikrobioma usus. Selamat datang di kota metropolitan mikroskopis di dalam perut kita. Ada sekitar 39 triliun bakteri, jamur, dan virus yang berkoloni di usus kita. Sebagai gambaran, jumlah mereka bahkan lebih banyak dari jumlah sel manusia di tubuh kita sendiri. Secara teknis dan matematis, kita ini lebih dominan bakterinya daripada manusianya! Kumpulan mikroba ini bukan sekadar penumpang gelap. Mereka adalah co-pilot kehidupan kita. Sains keras kini telah membuktikan keberadaan gut-brain axis (sumbu usus-otak). Bakteri-bakteri inilah yang mencerna serat yang tidak sanggup kita cerna, lalu memproduksi zat ajaib bernama short-chain fatty acids atau asam lemak rantai pendek. Zat inilah yang menembus aliran darah, naik ke otak, dan mengatur apakah neuron-neuron kita bisa bekerja cepat sehingga kita merasa cerdas, atau melambat sehingga kita jadi lemot. Kalau kita rajin makan sayur dan serat, bakteri baik akan berpesta. Mereka balas budi dengan mengirim sinyal ke otak: "Semua aman di bawah sini! Bikin dia bahagia dan fokus." Sebaliknya, kalau kita terus-terusan makan makanan olahan tinggi gula, bakteri jahat yang akan menang. Mereka mengirim sinyal peradangan ke otak. Hasilnya? Kita jadi gampang cemas, mood swing, dan susah berpikir kritis.

V

Memahami fakta sains ini, entah kenapa, memberi saya rasa lega yang luar biasa. Terkadang, saat kita merasa sedih, gampang marah, atau mengalami burnout, kita terlalu keras menghakimi diri sendiri. Kita merasa diri kita lemah secara mental atau tidak becus mengatur emosi. Padahal, sangat mungkin ekosistem di dalam perut kita sedang kacau balau karena kita lupa merawatnya. Kita sedang tidak baik-baik saja bukan karena kita gagal sebagai manusia, tapi karena triliunan teman kecil di perut kita sedang mogok kerja kelaparan. Jadi, ke depannya, setiap kali teman-teman merasa beban dunia ini terlalu berat atau pikiran sedang sangat buntu, coba jeda sejenak. Ingatlah bahwa kita ini bukan sekadar individu yang berdiri sendiri, kita adalah sebuah alam semesta yang dihidupi oleh entitas lain. Mungkin yang kita butuhkan saat itu bukanlah merenung dan overthinking berjam-jam, melainkan seporsi tempe, secangkir kombucha, atau semangkuk sayur untuk memberi makan sekutu tak kasat mata kita. Karena ternyata pepatah lama itu tidak sepenuhnya salah: jalan menuju kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa, memang benar-benar harus melewati perut kita.