biohacking keberanian

mengelabui respons fight or flight dengan stimulasi dingin

biohacking keberanian
I

Pernahkah kita merasa perut tiba-tiba mulas saat harus melakukan presentasi penting? Atau mungkin jantung berdebar kencang sampai tangan gemetar saat hendak mengirim pesan teks untuk menagih janji? Rasa takut dan cemas itu sangat nyata. Ribuan tahun yang lalu, leluhur kita merasakan sensasi yang sama persis saat mereka sedang dikejar harimau purba berhidung pedang. Sekarang, kita merasakannya saat menatap layar ponsel atau laptop. Bagaimana kalau saya bilang, sebenarnya ada cara untuk meretas sistem ketakutan di dalam otak kita? Dan alat untuk melakukan peretasan ini bukanlah obat-obatan mahal yang harus diresepkan dokter. Alat ini sangat murah dan kemungkinan besar ada di kulkas dapur kita saat ini. Ya, kita sedang berbicara tentang kekuatan sebongkah es dan air dingin.

II

Mari kita mundur sedikit ke belakang untuk memahami mengapa kita sering kali lumpuh oleh rasa takut. Otak manusia dirancang dengan sebuah sistem alarm keamanan yang luar biasa canggih dan sensitif. Nama alarm ini adalah amigdala. Tugas utamanya adalah memicu respons fight or flight (lawan atau lari). Saat leluhur kita melihat semak-semak bergoyang di hutan, amigdala akan berteriak: "Lari, ada bahaya!" Masalah terbesarnya adalah, perangkat lunak di otak kita ini belum banyak mengalami pembaruan sejak zaman batu. Hari ini, amigdala kita masih sering salah membaca situasi. Atasan di kantor yang mengirim email dengan subjek "bisa bicara sebentar?" sering kali diartikan sama berbahayanya dengan seekor singa yang kelaparan. Akibatnya, otot kita menjadi kaku. Tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Kita pun terjebak dalam kepanikan luar biasa yang sebenarnya sama sekali tidak mengancam nyawa. Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya kita memberi tahu otak purba ini bahwa kita sebenarnya aman-aman saja dan sedang duduk nyaman di kursi kantor? Di sinilah situasi mulai menjadi sangat menarik.

III

Para peneliti saraf dan praktisi biohacking mulai menyadari sebuah anomali yang unik pada tubuh manusia. Ternyata, kita sering kali tidak bisa menenangkan pikiran hanya dengan menyuruh diri kita sendiri untuk rileks. Mencoba tenang saat sedang dilanda serangan panik itu sama sia-sianya dengan menyuruh orang yang sedang marah besar untuk bersabar. Alih-alih berusaha meredam alarm yang sedang menyala terang, kita justru harus menekan tombol alarm itu lebih keras. Namun, kita harus menekannya dalam kondisi fisik yang sepenuhnya kita kendalikan. Kedengarannya sangat tidak masuk akal, bukan? Mengapa kita harus menambahkan stres pada tubuh yang sudah kewalahan oleh stres? Jawabannya tersembunyi pada sistem saraf vagus kita. Ini adalah semacam kabel data utama yang menghubungkan otak dengan organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru. Jika kita berhasil memanipulasi kabel data ini, kita bisa mematikan sakelar panik hanya dalam hitungan detik. Dan sakelar misterius ini ternyata sangat amat sensitif terhadap satu hal yang sangat spesifik. Sebuah kejutan fisik yang mendadak.

IV

Inilah rahasia biologisnya. Saat kita membasuh wajah dengan air es, atau dengan sengaja mandi menggunakan air dingin yang menusuk tulang, tubuh kita akan mengalami sebuah fenomena yang disebut mammalian dive reflex (refleks menyelam mamalia). Ini adalah respons bertahan hidup bawaan yang juga dimiliki oleh hewan seperti paus dan lumba-lumba. Saat reseptor suhu di wajah kita mendeteksi air dingin secara mendadak, tubuh akan mengira bahwa kita sedang menyelam ke dalam lautan yang dalam. Apa yang terjadi di dalam tubuh sedetik kemudian adalah murni keajaiban biologi. Detak jantung kita otomatis akan melambat dengan drastis. Pembuluh darah di permukaan kulit akan menyempit untuk menyimpan oksigen. Dan yang paling penting, sistem saraf parasimpatis—yaitu mode "istirahat dan cerna" pada tubuh kita—akan langsung mengambil alih kendali secara paksa. Rasa panik yang membakar dada akibat fight or flight tadi langsung disiram mati seketika. Kita pada dasarnya baru saja melakukan proses reboot atau menyalakan ulang sistem operasi saraf kita. Dengan sengaja menempatkan diri pada ketidaknyamanan fisik jangka pendek, kita melatih otak untuk menoleransi lonjakan adrenalin. Kita sedang membuktikan kepada amigdala bahwa, "Hei, jantungku memang berdebar kencang, napasku terengah-engah karena air es ini, tapi nyatanya aku tidak mati." Tanpa disadari, kita sedang membangun otot keberanian langsung dari dalam jaringan saraf kita sendiri.

V

Merasa takut itu wajar. Itu adalah hal yang sangat manusiawi. Teman-teman dan saya tidak perlu bermusuhan dengan rasa cemas kita sendiri. Karena bagaimanapun juga, kecemasan itu dulunya berevolusi justru untuk memastikan kelangsungan hidup umat manusia. Namun, kita juga tidak harus selalu tunduk dan menyerah padanya. Membangun sebuah keberanian ternyata bukan sekadar soal seberapa banyak kita membaca kutipan motivasi, atau seberapa sering kita melakukan afirmasi positif di depan cermin kamar mandi. Terkadang, keberanian sejati adalah soal seberapa pintar kita mengenali mekanisme mesin biologis kita sendiri, dan mencari cara cerdas untuk mengelabuinya. Jadi, besok-besok saat teman-teman merasa kewalahan, saat dada terasa sesak oleh kecemasan, atau saat takut mengambil sebuah keputusan besar, cobalah berjalan ke wastafel terdekat. Nyalakan keran air dingin, basuh wajah secara perlahan, atau sekalian saja mandi air dingin. Biarkan biologi mengambil alih kepanikan itu. Rasakan detak jantung yang mulai melambat dengan sendirinya. Tarik napas yang panjang. Dan setelah itu, hadapilah dunia dengan versi diri yang sudah disetel ulang. Karena kadang-kadang, keberanian luar biasa yang kita cari hanya berjarak satu guyuran air es saja.