Sejarah Berjabat Tangan
asal-usul gerakan tangan yang awalnya untuk membuktikan kita tidak membawa senjata
Pernahkah kita berada di situasi yang sedikit canggung saat baru pertama kali kenalan dengan orang lain? Biasanya ada jeda sekian detik di mana otak kita berpikir keras. Apakah kita harus menunduk? Tersenyum saja? Atau menyodorkan tangan? Pada akhirnya, kita biasanya memilih untuk menyodorkan tangan kanan. Kita saling menggenggam tangan orang tersebut. Lalu mengayunkannya naik turun. Sekilas, ini adalah gerakan yang sangat aneh kalau kita pikir-pikir lagi. Kenapa kita harus menyentuh tangan orang asing? Dari mana sebenarnya kebiasaan fisik yang agak absurd ini bermula?
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Kebiasaan ini ternyata bukanlah ciptaan manusia modern di lingkungan korporat. Kalau teman-teman melihat artefak atau relief dari zaman Yunani Kuno sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi, gerakan saling bersalaman ini sudah ada. Mereka menyebutnya dexiosis, atau menyatukan tangan kanan. Gerakan yang hampir persis sama juga ditemukan di peninggalan kebudayaan Asiria dan Mesir kuno. Ini artinya, selama ribuan tahun, nenek moyang kita melakukan ritual yang persis dengan yang kita lakukan di kedai kopi hari ini. Tapi, di masa lalu, motif mereka jauh lebih pragmatis. Bahkan bisa dibilang, ini adalah urusan hidup dan mati.
Coba kita bayangkan hidup di zaman kuno. Dunia saat itu belum seaman dan setertib sekarang. Saat kita sedang berjalan dan berpapasan dengan orang asing, amigdala di otak primitif kita langsung membunyikan alarm kewaspadaan. Pertanyaannya di kepala kita cuma satu: apakah orang ini teman, atau ancaman? Kita butuh bukti instan bahwa orang di depan kita ini tidak akan tiba-tiba mencabut nyawa kita. Di sinilah manusia purba mencari solusi yang cerdas. Sebuah gestur fisik mutlak diperlukan. Tapi, kenapa harus selalu menyodorkan tangan kanan? Dan yang paling aneh, kenapa tangannya harus diayun-ayunkan secara agresif? Ada rahasia kecil yang cukup gelap di balik gerakan sederhana ini.
Inilah faktanya: jabat tangan pada awalnya adalah protokol keamanan anti-pembunuhan. Di masa lalu, mayoritas manusia menggunakan tangan kanannya untuk memegang senjata mematikan seperti pedang atau belati. Saat kita menyodorkan tangan kanan yang kosong, kita sebenarnya sedang mengirimkan pesan visual yang sangat kuat. Pesan itu berbunyi, "Lihat, tangan saya kosong, saya tidak memegang senjata." Lalu, kenapa harus digenggam dan diayunkan naik turun? Gerakan mengocok tangan ini fungsinya sangat literal. Tujuannya untuk menggugurkan senjata tajam yang mungkin disembunyikan di dalam lengan baju sang lawan bicara. Begitu rasa aman ini terbentuk, sains pun mengambil alih. Ketika dua manusia bersentuhan kulit, otak kita langsung melepaskan oxytocin, yang sering dikenal sebagai hormon ikatan sosial. Sentuhan fisik itu seketika menurunkan cortisol atau hormon stres kita. Jadi, gestur yang awalnya murni diciptakan untuk memastikan kita tidak ditusuk, secara biologis berevolusi menjadi tombol shortcut di otak untuk membangun rasa percaya.
Hari ini, kita tentu tidak lagi menyembunyikan belati di balik jas atau kemeja kita. Tapi, kebiasaan purba ini tetap bertahan, bahkan berhasil melewati masa-masa pembatasan fisik saat pandemi kemarin. Mengapa kita enggan meninggalkannya? Karena sebagai manusia, kita secara fundamental haus akan koneksi. Jabat tangan di era modern bukan lagi soal membuktikan kita tidak berbahaya secara fisik. Gestur ini telah berubah menjadi cara paling purba sekaligus paling canggih yang kita miliki untuk berkata, "Saya menghargaimu, dan kita aman bersama." Saat nanti teman-teman kembali berjabat tangan dengan seseorang, ingatlah sejarah panjang dan biologi di baliknya. Di momen yang berlangsung cuma dua detik itu, kita tidak hanya sedang mematuhi norma sosial. Kita sedang merayakan ribuan tahun evolusi empati manusia.