Evolusi Rasa Jijik
kenapa kita merasa mual melihat luka atau kotoran sebagai sistem pertahanan
Coba bayangkan sejenak. Kita sedang asyik menyantap makanan favorit. Tiba-tiba, lewat sebuah video di layar ponsel: seseorang sedang memencet jerawat bernanah yang ukurannya sebesar kelereng. Atau, ada bau sampah basah yang mendadak tertiup angin ke arah kita. Nafsu makan kita pasti langsung menguap. Perut mendadak bergejolak. Mulut memproduksi ludah lebih banyak, dan kita merasa ingin muntah saat itu juga. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa reaksi kita harus seheboh itu? Kenapa hanya dengan melihat sesuatu yang menjijikkan, tubuh kita bereaksi seolah-olah kita baru saja menelan racun?
Kita mungkin sering berpikir kalau rasa jijik itu murni soal kebiasaan. Sesuatu yang diajarkan oleh norma, budaya, atau omelan orang tua kita sejak kecil. Tapi mari kita mundur sejenak ke abad ke-19. Saat itu, bapak evolusi kita, Charles Darwin, sedang melakukan ekspedisi di ujung selatan Amerika Selatan. Ia menawarkan daging dingin panggang kepada seorang penduduk asli. Penduduk itu menyentuh daging tersebut, lalu mundur dengan ekspresi wajah yang sangat khas: hidung berkerut dan bibir atas tertarik. Ia merasa jijik melihat makanan asing yang lembek itu. Lucunya, Darwin sendiri juga ikut merasa jijik melihat tangan telanjang si penduduk menyentuh makanannya. Dari kejadian canggung ini, Darwin menyadari sesuatu yang luar biasa. Ekspresi jijik ternyata bersifat universal. Tidak peduli dari mana kita berasal, wajah jijik kita bentuknya sama persis. Ini berarti, rasa jijik bukanlah sekadar produk budaya. Ini adalah perangkat keras bawaan pabrik yang tertanam sangat kuat di dalam otak kita.
Sekarang mari kita bedah misteri ini bersama-sama. Coba perhatikan emosi dasar kita yang lain. Kalau kita merasa takut melihat ular kobra di halaman rumah, jantung kita berdebar kencang. Darah mengalir deras ke kaki agar kita bisa berlari cepat. Itu sangat masuk akal. Kalau kita marah, otot kita menegang siap untuk bertarung. Itu juga masuk akal. Tapi bagaimana dengan rasa jijik? Kenapa emosi yang satu ini malah membuat perut kita mual dan tenggorokan kita seolah terkunci? Bukankah ini reaksi yang merepotkan? Terlebih lagi, kenapa kita juga merasa mual saat melihat luka terbuka yang berdarah-darah, padahal luka itu ada di tubuh orang lain? Apakah otak kita mengalami glitch atau semacam eror sistem? Atau jangan-jangan, ada sebuah rahasia besar di balik rasa mual ini yang diam-diam telah menyelamatkan nyawa manusia selama jutaan tahun?
Jawabannya ternyata sangat menakjubkan, teman-teman. Dalam dunia psikologi evolusioner, fenomena ini dikenal sebagai behavioral immune system atau sistem imun perilaku. Selama ini kita tahu bahwa tubuh punya sel darah putih untuk melawan kuman penyakit. Masalahnya, membiarkan kuman masuk lalu melawannya dari dalam itu butuh energi besar dan sangat berisiko. Otak kita tidak mau ambil risiko konyol itu. Otak butuh garis pertahanan pertama jauh di luar tubuh. Itulah rasa jijik. Rasa jijik adalah tameng proaktif kita. Kenapa harus mual? Karena evolusi mendesain rasa mual sebagai tombol alarm pembajakan fisik. Hidung yang berkerut otomatis menutup saluran napas dari spora bakteri berbahaya. Perasaan ingin muntah adalah mekanisme penolakan mutlak agar kita tidak menelan patogen mematikan, atau membuang apa pun yang terlanjur menyentuh lidah. Lalu, bagaimana dengan luka parah? Di alam liar, luka terbuka, nanah, dan kotoran adalah markas besar bakteri infeksius. Ketika kita melihatnya, otak purba kita langsung meneriakkan peringatan: bahaya penularan tingkat tinggi! Jadi, kalau teman-teman merasa mual saat harus merawat luka seseorang, jangan pernah merasa bersalah dan mengira kita ini orang yang kurang empati. Secara nurani, hati kita sangat ingin menolong. Tapi secara biologis, alarm bertahan hidup kita sedang menyala terang untuk memastikan kita tidak ikut mati tertular penyakit.
Pada akhirnya, emosi yang sering kita anggap mengganggu dan memalukan ini sebenarnya adalah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa dalam sejarah umat manusia. Tanpa rasa jijik, leluhur kita mungkin sudah lama punah karena sembarangan memakan daging busuk atau memeluk anggota suku yang terinfeksi wabah mematikan. Jadi, lain kali jika teman-teman mendadak merasa mual saat mencium bau selokan, melihat makanan berjamur, atau tersentak melihat luka kecelakaan yang mengerikan, jangan buru-buru kesal. Tarik napas sejenak (pastikan udaranya bersih, tentu saja), dan tersenyumlah dalam hati. Ucapkan terima kasih kepada otak purba kita. Karena rasa mual yang tidak nyaman itu adalah bukti nyata bahwa sistem pertahanan kehidupan di dalam diri kita masih bekerja dengan sangat sempurna.