Antropologi Tabu

kenapa hal-hal tertentu dianggap terlarang untuk dibicarakan di setiap budaya

Antropologi Tabu
I

Pernahkah kita duduk santai di ruang keluarga, lalu tiba-tiba ada yang menanyakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan mendadak hening?

Mungkin ada kerabat yang iseng bertanya soal gaji, atau membahas topik yang agak berat seperti penyakit fatal dan kematian. Tiba-tiba, suasananya langsung canggung. Udara seolah menebal. Orang-orang mulai berdeham, mengalihkan pandangan, atau mendadak sibuk mengecek ponsel.

Kita langsung tahu bahwa kita baru saja menginjak ranjau sosial tak kasat mata. Ranjau itu punya nama: tabu.

Kok bisa ada aturan yang tidak pernah ditulis di buku hukum mana pun, tapi semua orang tahu kalau itu terlarang? Siapa yang membisikkan ke otak kita bahwa hal-hal tertentu pantang diucapkan? Mari kita bongkar misteri ini sama-sama.

II

Kata tabu sebenarnya berasal dari bahasa Polinesia, yaitu tapu. Maknanya sangat sakral, atau sebaliknya, sangat berbahaya sampai-sampai tidak boleh disentuh atau dibicarakan.

Anehnya, setiap budaya di dunia punya daftar tabunya masing-masing. Di satu negara, bersendawa setelah makan adalah bentuk pujian ke koki. Di negara kita, itu bisa dianggap sangat tidak sopan.

Tapi ada pola universal yang berulang. Kalau teman-teman perhatikan, hampir semua budaya di bumi punya pantangan keras untuk membicarakan tiga hal: fungsi cairan tubuh, seksualitas, dan kematian. Kenapa otak kita seolah punya tombol panik otomatis saat topik-topik ini muncul?

Mungkin kita sering berpikir ini cuma soal tradisi atau tata krama belaka. Tapi sains punya penjelasan yang jauh lebih tua dan lebih dalam dari sekadar kesopanan.

III

Coba kita mundur jauh ke zaman prasejarah. Nenek moyang kita hidup dalam ancaman konstan. Bukan cuma dari hewan buas, tapi dari musuh mematikan yang tidak terlihat: bakteri, patogen, dan penyakit.

Di sinilah psikologi evolusioner mulai bekerja. Otak manusia mengembangkan sebuah mekanisme pertahanan brilian yang disebut behavioral immune system atau sistem kekebalan perilaku. Senjata utamanya sederhana: rasa jijik.

Rasa jijik ini awalnya adalah alarm biologis agar kita menjauhi makanan busuk, kotoran, atau mayat. Tujuannya murni agar kita tidak mati terinfeksi. Tapi, seiring berjalannya waktu, otak manusia bertambah cerdas dan struktur sosial kita semakin rumit.

Rasa jijik fisik ini berevolusi. Ia bermutasi menjadi rasa jijik moral dan sosial.

Pertanyaannya, bagaimana rasa jijik biologis terhadap kotoran bisa berubah menjadi larangan keras membicarakan status finansial, hierarki keluarga, atau trauma masa lalu? Di titik ini, kita menemukan sesuatu yang membuat merinding.

IV

Ini dia rahasia terbesarnya. Antropologi melihat tabu bukan sekadar aturan etika, melainkan perekat sosial sekaligus alat kontrol kekuasaan.

Seorang antropolog legendaris, Mary Douglas, pernah mengenalkan konsep yang sangat brilian. Ia bilang bahwa sesuatu dianggap kotor karena ia tidak berada pada tempatnya (matter out of place). Sepatu itu bersih kalau ditaruh di rak, tapi jadi "kotor" dan menjijikkan kalau ditaruh di atas meja makan.

Hal yang sama berlaku untuk ide dan percakapan. Tabu diciptakan untuk menjaga keteraturan sosial kita.

Ketika kita membicarakan gaji secara blak-blakan, kita berisiko merusak ilusi kesetaraan di antara teman. Ketika kita mendiskusikan kematian dengan santai, kita mengganggu insting bertahan hidup kelompok yang ingin merasa aman. Tabu menjaga semua hal tetap pada tempatnya.

Namun sayangnya, karena tabu punya kekuatan psikologis sebesar ini, ia sering dibajak. Penguasa, elit sosial, atau tradisi yang kaku sepanjang sejarah menggunakan tabu untuk membungkam kritik. Sesuatu yang mengancam kekuasaan atau status quo tiba-tiba dilabeli sebagai hal yang tidak pantas dibicarakan.

Jadi, saat kita dilarang membahas sesuatu, pertanyaan kritisnya bukanlah "apakah topik ini sopan?", melainkan "siapa yang sebenarnya diuntungkan dari keheningan ini?"

V

Memahami asal-usul tabu tentu bukan berarti kita harus jadi pemberontak menyebalkan yang sengaja membahas hal-hal sensitif di setiap tongkrongan. Kita tetap butuh empati. Kita butuh harmoni.

Tapi, setidaknya sekarang kita tahu bahwa dinding-dinding pembatas itu adalah buatan manusia.

Terkadang, tabu memang berfungsi baik untuk melindungi perasaan kelompok kita. Namun di lain waktu, tabu justru menyembunyikan ketidakadilan, luka sejarah, atau masalah kesehatan mental yang seharusnya kita bedah dan sembuhkan bersama-sama.

Mulai sekarang, saat teman-teman merasakan keheningan canggung karena sebuah topik "terlarang" muncul di meja makan, kita bisa tersenyum dalam hati. Kita tahu bahwa di balik rasa canggung itu, ada sejarah ribuan tahun tentang manusia yang hanya berusaha bertahan hidup, mencari keteraturan, dan kadang, mempertahankan kekuasaannya. Menarik sekali, bukan?