Antropologi Olahraga
kenapa kita sangat terobsesi dengan permainan bola sebagai simulasi peperangan
Bayangkan momen ini. Kita sedang duduk di depan televisi atau berada di tengah stadion yang bergemuruh. Lalu, seseorang menendang sebuah benda bulat hingga melewati garis putih. Tiba-tiba, kita melompat kegirangan. Kita memeluk orang asing di sebelah kita. Bahkan, ada yang sampai menangis terharu. Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir, kenapa kita bisa se-emosional itu? Kalau dipikir-pikir lagi, itu cuma sekumpulan orang dewasa yang mengejar bola selama sembilan puluh menit. Rasanya sungguh tidak masuk akal. Tapi di situlah letak keajaibannya. Obsesi kita terhadap permainan bola ternyata bukan sekadar hiburan akhir pekan. Ini adalah sebuah panggilan genetik. Ada sesuatu yang sangat purba dan mendalam yang sedang terjadi di dalam otak kita, setiap kali peluit pertandingan ditiup.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Jauh sebelum ada piala emas, liga profesional, atau sponsor di dada jersey. Nenek moyang kita hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, mereka harus berburu dan melindungi wilayah dari kelompok lain. Otak kita perlahan berevolusi untuk merespons dua hal ini dengan sangat kuat. Pertama, loyalitas mutlak pada kawan. Kedua, kewaspadaan tingkat tinggi pada lawan. Garis pembatasnya sangat jelas, yaitu kita melawan mereka. Insting tribal ini tidak hilang begitu saja ketika manusia mulai membangun peradaban modern. Kita memang tidak lagi harus menyerang desa tetangga untuk memperebutkan makanan. Tapi, energi agresi dan insting teritorial itu masih tertanam rapat di dalam DNA kita. Energi liar ini butuh wadah. Ia butuh disalurkan agar tidak meledak menjadi kekerasan massal yang sesungguhnya. Di sinilah umat manusia menciptakan sebuah solusi psikologis yang sangat brilian.
Solusi tersebut mengambil bentuk yang sangat sederhana. Sebuah bola. Tapi, mengapa harus bola? Mengapa tidak lomba lari atau memanjat tebing saja yang menjadi obsesi massal terbesar umat manusia? Jika kita membedah sejarah, suku Maya dan Aztec punya permainan bola suci bernama Ōllamaliztli. Permainan ini bukan sekadar olahraga sore hari. Bagi mereka, lapangan adalah alam semesta dan bola adalah matahari. Terkadang, kapten tim yang kalah akan dikorbankan kepada para dewa. Mengerikan, bukan? Tapi sejarah kelam ini memberi kita sebuah petunjuk penting. Sejak ribuan tahun lalu, permainan bola selalu beririsan dengan batas antara hidup, mati, dan kehormatan. Ada sesuatu di dalam dinamika berebut bola yang memicu respons fight or flight di otak kita. Coba perhatikan tubuh kita sendiri. Ketika tim kesayangan kita kebobolan, detak jantung kita meningkat. Telapak tangan kita berkeringat. Perasaan cemas yang kita alami persis seperti ketika nenek moyang kita melihat predator yang sedang mendekat. Apa yang sebenarnya sedang diproses oleh tubuh kita saat itu?
Jawabannya mungkin akan membuat teman-teman tersenyum takjub. Secara antropologis dan neurobiologis, permainan bola adalah sebuah simulasi peperangan. Ya, olahraga tim adalah perang yang sudah dijinakkan. Lapangan hijau adalah medan tempur buatan. Garis batas pinggir lapangan adalah teritori negara. Gawang atau keranjang adalah benteng pertahanan terakhir yang harus dilindungi mati-matian. Dan bola? Bola adalah simbol sumber daya kehidupan atau rampasan perang yang sedang diperebutkan. Sains membuktikan hal ini dengan sangat indah. Ketika kita menonton tim kita bertanding, otak kita membanjiri tubuh dengan hormon testosteron untuk bersiap menghadapi konflik. Ketika pemain kesayangan kita mencetak gol, otak menembakkan dopamin yang memberi rasa euforia dan kemenangan luar biasa. Hebatnya lagi, di saat yang sama, oksitosin—yakni hormon cinta dan ikatan sosial—juga mengalir deras. Inilah sebabnya kita merasa sangat bersaudara dengan sesama pendukung yang bahkan tidak kita kenal namanya. Kita menggunakan olahraga sebagai mekanisme sublimasi. Kita mengambil dorongan agresi yang merusak, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang aman, teratur, dan memiliki aturan main yang jelas.
Jadi, obsesi gila-gilaan kita terhadap sepak bola, basket, atau olahraga tim lainnya bukanlah sesuatu yang konyol. Itu justru bukti seberapa jauh kita telah berevolusi sebagai manusia. Kita sadar betul bahwa kita punya sisi gelap yang penuh dengan hasrat untuk menaklukkan. Namun, alih-alih saling membunuh di medan perang yang nyata, kita sepakat untuk menyelesaikannya di atas lapangan rumput selama beberapa jam saja. Setelah peluit akhir berbunyi, para pemain bersalaman. Mereka bertukar jersey. Kita pun pulang ke rumah masing-masing dengan damai, untuk bersiap menunggu simulasi peperangan di minggu depan. Menyadari hal ini membuat saya melihat olahraga dengan kacamata yang sama sekali baru. Lain kali kita berteriak kegirangan atau menangis karena sebuah gol, ingatlah hal ini. Kita tidak sedang menonton sekadar permainan. Kita sedang merayakan kemanusiaan kita. Kita sedang menonton sebuah perayaan damai dari insting paling liar yang kita miliki. Dan menurut saya, itu adalah sebuah mahakarya evolusi yang sangat indah.