Antropologi Masa Depan

apakah evolusi manusia sudah berhenti atau kita sedang menuju spesies baru

Antropologi Masa Depan
I

Pernahkah kita berdiri di depan cermin, menatap pantulan diri kita, lalu bertanya-tanya: "Apakah ini versi final dari manusia?"

Secara psikologis, kita cenderung mengidap apa yang disebut End of History Illusion. Kita merasa bahwa perjalanan panjang sejarah—dan dalam hal ini, evolusi—telah mencapai garis akhir, dan kita adalah puncak karyanya. Kita membayangkan Homo sapiens masa depan akan terlihat persis seperti kita saat ini, mungkin hanya dengan pakaian yang lebih aneh atau kacamata augmented reality yang menempel di wajah.

Tapi, mari kita berpikir kritis sejenak. Nenek moyang kita perlahan kehilangan bulu tubuh yang lebat, mulai berjalan tegak, dan mengembangkan otak yang rakus akan kalori. Semua itu terjadi karena tekanan alam. Saat ini, kita hidup di era di mana kita bisa memesan burger lewat layar kaca sambil rebahan di ruangan ber-AC. Alam seolah tidak lagi menekan kita. Jadi, wajar jika teman-teman mungkin berpikir bahwa evolusi manusia sudah berhenti total. Tapi, apakah benar begitu? Mari kita bongkar perlahan.

II

Sains justru berkata sebaliknya. Evolusi tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya bergerak diam-diam di bawah radar persepsi kita.

Ambil contoh sederhana yang mungkin teman-teman alami sendiri: minum susu sapi. Secara historis, mamalia dirancang untuk berhenti memproduksi enzim pencerna susu (laktase) setelah masa menyusui selesai. Namun, sekitar 10.000 tahun lalu, ketika kita mulai beternak sapi, sebuah mutasi genetik muncul. Mereka yang bisa meminum susu sapi punya sumber kalori tambahan dan peluang hidup lebih tinggi. Hasilnya? Kemampuan mencerna laktase dewasa menyebar luas. Ini adalah bukti bahwa tubuh kita terus beradaptasi.

Contoh lainnya ada di dalam mulut kita. Berapa banyak dari kita yang harus mencabut gigi bungsu karena rahang kita terlalu kecil? Seiring kita mulai memasak makanan sehingga menjadi lebih empuk, rahang kita tidak perlu lagi bekerja terlalu keras. Evolusi meresponsnya dengan menyusutkan ukuran rahang dari generasi ke generasi.

Jadi, evolusi biologis itu masih berjalan. Namun, di abad ke-21 ini, ceritanya mulai menjadi jauh lebih liar. Kita bukan lagi sekadar mainan dari seleksi alam. Kita baru saja menemukan semacam "kode rahasia" dari permainan ini, dan tangan kita mulai gatal untuk meretasnya.

III

Inilah momen di mana antropologi masa depan menjadi sangat mendebarkan. Jika dulu natural selection (seleksi alam) yang menentukan siapa yang bertahan hidup, sekarang kita memasuki era unnatural selection.

Berkat kemajuan kedokteran modern, penyakit yang dulunya mematikan gen kita sebelum kita sempat memiliki anak, kini bisa disembuhkan. Kita berhasil melawan hukum seleksi alam purba. Tapi, apa dampaknya bagi kumpulan genetik (gene pool) kita di masa depan? Apakah ini membuat fisik kita secara kolektif menjadi lebih rapuh, namun otak dan empati kita menjadi lebih kuat karena kita saling merawat?

Lalu, bagaimana jika kita menambahkan teknologi ke dalam persamaaan ini? Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi jika manusia akhirnya membangun koloni di Mars? Gravitasi di Mars hanya sekitar sepertiga dari gravitasi Bumi. Tulang dan otot kita akan menyusut. Radiasi kosmik di sana jauh lebih tinggi, memaksa tubuh kita untuk bermutasi atau mati. Dalam hitungan beberapa ratus generasi saja, manusia yang lahir di Mars mungkin tidak akan bisa lagi berdiri di Bumi tanpa bantuan alat.

Tapi tunggu dulu, kita punya satu variabel lagi yang paling mengubah keadaan. Variabel ini tidak butuh ribuan tahun. Ia bisa terjadi dalam satu generasi.

IV

Bersiaplah untuk realitas baru kita: kita adalah spesies pertama dalam sejarah Bumi yang bisa mendesain arah evolusinya sendiri.

Teman-teman pasti pernah mendengar tentang CRISPR, teknologi "gunting genetik" yang memungkinkan ilmuwan memotong dan menempelkan DNA. Saat ini, teknologi tersebut digunakan untuk menyembuhkan penyakit genetik. Namun, batas antara "menyembuhkan penyakit" dan "meningkatkan kemampuan" (human enhancement) itu sangat tipis.

Di masa depan yang tidak terlalu jauh, orang tua mungkin bisa memilih embrio dengan gen yang tahan terhadap virus tertentu, memiliki kepadatan tulang ekstra, atau bahkan kecerdasan di atas rata-rata. Kita perlahan bertransisi dari Homo sapiens (manusia yang bijaksana) menuju apa yang beberapa futurolog sebut sebagai Homo evolutis—manusia yang secara sadar mengarahkan evolusinya sendiri.

Belum lagi jika kita bicara tentang integrasi manusia dan mesin. Implantasi chip ke dalam otak untuk meningkatkan memori atau menghubungkan pikiran langsung ke internet bukanlah fiksi ilmiah; uji cobanya sedang berlangsung hari ini. Evolusi kita ke depan tidak hanya berbasis karbon (daging dan darah), melainkan penggabungan antara biologi dan teknologi. Kita sedang berada di ambang persimpangan: akankah kita tetap menjadi satu spesies yang sama, atau akankah umat manusia terpecah menjadi beberapa spesies baru berdasarkan akses mereka terhadap teknologi genetik dan sibernetik?

V

Membayangkan masa depan manusia memang bisa membuat kepala kita sedikit berputar. Ada rasa takjub, tapi juga ada kekhawatiran yang wajar.

Namun, di tengah semua skenario tentang mutasi Mars, modifikasi genetik, atau manusia cyborg, ada satu benang merah psikologis yang tidak boleh kita lupakan. Sepanjang sejarah, senjata terkuat Homo sapiens bukanlah gigi yang tajam atau kulit yang tebal. Senjata terkuat kita adalah kemampuan kita untuk bekerja sama, berbagi cerita, dan merasakan empati.

Teknologi mungkin akan mengubah bentuk fisik kita. Ia mungkin akan mendesain ulang DNA kita atau mengintegrasikan silikon ke dalam otak kita. Tetapi, arah dari evolusi masa depan ini sepenuhnya bergantung pada kebijaksanaan kita hari ini. Apakah kita akan menggunakan sains untuk menciptakan kesenjangan baru, atau untuk menyembuhkan dan merangkul sesama?

Pada akhirnya, teman-teman, cermin di masa depan mungkin akan memantulkan wajah yang tidak lagi sepenuhnya kita kenali. Namun, selama mata di cermin itu masih memancarkan kasih sayang dan rasa kemanusiaan, saya rasa, spesies kita akan baik-baik saja. Evolusi tidak pernah berhenti, ia hanya meminta kita untuk menjadi pengemudi yang lebih bertanggung jawab.