Antropologi Kepemimpinan

sains di balik kenapa kita cenderung mengikuti orang yang bicaranya paling lantang

Antropologi Kepemimpinan
I

Pernahkah kita duduk dalam sebuah rapat yang terasa tidak ada ujungnya? Ada satu masalah pelik yang sedang dibahas. Tiba-tiba, ada satu orang yang bicara paling keras. Dia memotong pembicaraan orang lain, tampak paling percaya diri, dan mendominasi seluruh obrolan. Padahal kalau kita telaah lagi secara objektif, idenya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tapi anehnya, di akhir rapat, hampir semua orang setuju dengan dia. Orang ini pun akhirnya ditunjuk sebagai pemimpin proyek. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kita gampang sekali tunduk pada orang yang suaranya paling lantang, meskipun kita tahu dia bukan orang yang paling pintar di ruangan itu?

II

Fenomena ini rupanya bukan cuma kebetulan yang menjengkelkan di kantor kita saja. Para psikolog dan ilmuwan perilaku punya sebutan khusus untuk hal ini: The Babble Hypothesis of Leadership. Hipotesis ini menyatakan sebuah fakta yang agak bikin geleng-geleng kepala. Ternyata, orang yang paling banyak bicara punya peluang paling besar untuk dipilih menjadi pemimpin. Bukan orang yang idenya paling cemerlang. Bukan juga yang paling bijaksana. Cuma orang yang kuantitas bicaranya paling banyak. Eksperimen demi eksperimen membuktikan hal yang sama. Kelompok manusia cenderung memilih pemimpin berdasarkan siapa yang paling sering mendominasi percakapan. Kok bisa begitu? Bukankah dari kecil kita selalu diajarkan pepatah bahwa tong kosong nyaring bunyinya? Untuk memahami ironi ini, kita harus mundur jauh ke masa lalu.

III

Coba teman-teman bayangkan kehidupan nenek moyang kita puluhan ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita sedang berkumpul di tengah sabana Afrika yang ganas. Tiba-tiba, ada suara semak-semak bergetar hebat. Dalam situasi hidup dan mati seperti ini, kelompok manusia purba tidak punya kemewahan waktu untuk duduk melingkar dan berdebat secara filosofis. Mereka tidak butuh analisis data yang rumit. Mereka butuh seseorang yang langsung berteriak, "Lari! Ada singa!" Orang yang berani mengambil keputusan cepat, bicara lantang, dan tampak sangat yakin, adalah pahlawan yang menyelamatkan nyawa. Selama ribuan tahun berevolusi, alam bawah sadar kita akhirnya mengasosiasikan suara keras, kecepatan merespons, dan kepercayaan diri dengan kepastian. Dan perlu kita ingat, otak manusia sangat menyukai kepastian untuk bisa bertahan hidup. Tapi, muncul satu pertanyaan besar. Apakah software otak zaman batu yang kita bawa-bawa ini masih relevan untuk memecahkan masalah zaman modern? Kenapa ilusi kepercayaan diri ini begitu susah dibongkar oleh logika kita?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang mungkin sedikit menampar ego kita. Otak kita itu ternyata sangat pemalas, teman-teman. Dalam ilmu psikologi kognitif, otak kita diketahui sering menggunakan jalan pintas mental yang disebut heuristics. Memproses siapa yang benar-benar pintar dan kompeten itu butuh energi kalori yang besar. Kita harus mengevaluasi argumennya, mencari celah logika, dan membandingkannya dengan fakta. Itu sangat melelahkan. Jadi, otak kita mengambil jalan pintas yang efisien: "Kalau dia bicara sebegitu yakin dan dominannya, dia pasti tahu apa yang dia bicarakan."

Sayangnya, jalan pintas ini sering kali dibajak oleh Dunning-Kruger effect. Ini adalah sebuah bias kognitif di mana orang yang sebenarnya kurang kompeten justru cenderung merasa terlalu percaya diri. Mereka berani bicara lantang karena mereka tidak tahu apa yang tidak mereka ketahui. Di sisi lain, orang yang benar-benar ahli malah lebih sering diam. Sang ahli tahu persis bahwa dunia ini rumit, banyak variabel yang harus dipertimbangkan, dan tidak ada jawaban yang hitam-putih. Akhirnya, volume suara dan kuantitas bicara menang telak atas kualitas gagasan. Kepercayaan diri palsu mengecoh otak kita dan menyamar sebagai kompetensi.

V

Setelah mengetahui sains di balik ini semua, kita tidak perlu merasa bodoh karena sering terjebak dalam ilusi kepemimpinan tersebut. Kita hanya sedang mengoperasikan sistem biologis kuno di dunia modern yang sudah jauh lebih kompleks. Pemimpin yang bicaranya paling lantang mungkin memang bisa menyelamatkan kita dari kejaran singa di masa lalu. Tapi dia belum tentu bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan, atau menyelamatkan negara dari krisis sosial ekonomi.

Ke depannya, mari kita sama-sama melatih diri untuk menjadi pendengar yang lebih kritis. Saat ada orang yang terlalu mendominasi pembicaraan dengan suara kerasnya, mungkin itu saat yang tepat bagi kita untuk berhenti sejenak dan bertanya di dalam hati: "Apakah dia benar-benar tahu solusinya, atau dia cuma berisik?" Mari kita beri ruang dan dorongan bagi mereka yang pendiam. Karena acap kali, ide yang paling brilian dan menyelamatkan tidak datang dari teriakan yang paling keras, melainkan dari pemikiran tenang yang telah dimasak matang-matang.