Antropologi Kebersihan

bagaimana konsep 'jijik' menyelamatkan spesies kita dari kepunahan

Antropologi Kebersihan
I

Bayangkan ini. Kita sedang membuka kulkas, berniat mencari camilan tengah malam. Kita mengambil sekotak susu yang terlihat normal. Tapi begitu kita buka tutupnya, ada bau asam menyengat yang langsung menusuk hidung. Secara refleks, wajah kita berkerut. Hidung kita mengerut, bibir atas kita terangkat, dan kita buru-buru menjauhkan kotak itu. Kita merasa mual. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa ekspresi wajah kita saat mencium makanan busuk selalu sama di mana pun kita berada? Dari mana datangnya rasa jijik ini? Secara kasat mata, ini cuma reaksi sederhana sehari-hari. Tapi kalau kita telusuri lebih jauh menggunakan kacamata sains, rasa mual sesaat itu sebenarnya adalah warisan purba yang luar biasa. Rasa jijik ini, teman-teman, adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang diam-diam menyelamatkan spesies kita dari kepunahan.

II

Mari kita mundur sedikit ke ratusan ribu tahun yang lalu. Nenek moyang kita hidup di dunia yang sangat keras dan tidak bisa ditebak. Mereka tidak punya mikroskop. Mereka sama sekali tidak tahu menahu soal bakteri, virus, atau parasit. Tapi, mereka harus bertahan hidup di alam liar yang penuh ancaman penyakit mematikan. Di sinilah otak kita melakukan trik evolusi yang sangat brilian. Alam membekali kita dengan apa yang para ilmuwan sebut sebagai behavioral immune system atau sistem imun perilaku. Kalau sistem imun biasa di dalam darah bertugas melawan penyakit yang sudah masuk ke dalam tubuh, sistem imun perilaku ini bertugas mencegah penyakit itu masuk sejak awal. Bagaimana caranya? Lewat emosi yang bernama rasa jijik. Rasa jijik memicu respons fisik dan psikologis agar kita langsung menjauhi sumber bahaya. Kotoran, bangkai, cairan tubuh, atau daging yang membusuk. Otak kita seolah berteriak keras, "Jangan sentuh itu, atau kita mati!" Ini adalah alarm pertahanan garis depan kita sebelum ilmu kedokteran ditemukan.

III

Charles Darwin, bapak teori evolusi kita, pernah menulis sebuah pengalaman yang sangat menarik soal ini. Saat ia berada di Tierra del Fuego, Amerika Selatan, seorang penduduk asli menyentuh daging dingin yang sedang dimakan Darwin. Penduduk asli itu langsung menunjukkan ekspresi sangat jijik melihat makanan Eropa tersebut. Sebaliknya, Darwin juga merasa sangat jijik melihat orang asing yang telanjang itu menyentuh makanannya. Dari catatan ini, kita bisa melihat sesuatu yang menggelitik nalar. Ternyata rasa jijik itu sifatnya universal, tapi pemicunya bisa sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan budaya lokal. Nah, ini memunculkan sebuah pertanyaan besar. Jika rasa jijik berevolusi secara biologis untuk melindungi kita dari kuman, bagaimana konsep ini akhirnya membentuk sejarah peradaban kita? Aturan kuno tentang makanan pantangan, tradisi mencuci tangan, hingga cara nenek moyang kita memisahkan area pembuangan dari tempat tinggal. Semuanya berakar dari rasa jijik. Tapi, tunggu dulu. Alat bertahan hidup yang luar biasa ini ternyata menyimpan sebuah efek samping yang cukup gelap. Bagaimana jika alarm purba ini mulai salah sasaran?

IV

Di sinilah letak ironi terbesar dari sejarah psikologi manusia. Otak kita dirancang untuk lebih baik salah menduga daripada mati. Evolusi membuat kita sangat sensitif terhadap hal-hal asing yang berpotensi membawa penyakit baru. Dulu, sifat terlalu waspada ini menyelamatkan nyawa nenek moyang kita dari wabah. Mereka bertahan hidup karena mereka secara instingtif menolak berinteraksi dengan kelompok asing yang terlihat berbeda atau punya kebiasaan yang tidak lazim. Sayangnya, respons emosional kuno ini terbawa terus hingga ke dunia modern kita yang sudah jauh lebih aman. Para ahli psikologi evolusioner menemukan bahwa rasa jijik terhadap patogen secara diam-diam bisa bermutasi menjadi moral disgust atau rasa jijik moral. Alarm purba di otak kita seringkali keliru mengartikan orang yang "berbeda" secara budaya, penampilan, atau keyakinan sebagai sebuah ancaman penyakit. Inilah akar biologis yang tidak disadari dari munculnya prasangka, xenofobia, dan diskriminasi di masyarakat. Rasa jijik yang dulu sukses memisahkan kita dari daging busuk, kini seringkali secara keliru memisahkan kita dari sesama manusia. Pahlawan purba kita ternyata bisa berubah menjadi penjahat di dunia modern jika kita tidak memahaminya.

V

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan panjang rasa jijik ini? Saya rasa, ini adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk lebih peka terhadap pikiran kita sendiri. Lain kali saat teman-teman merasa jijik, entah karena mencium bau tumpukan sampah atau saat merasakan penolakan terhadap kelompok orang yang berbeda dari kita, ambil jeda sejenak. Sadari bahwa itu adalah warisan otak purba kita yang sedang menyala. Kita tentu boleh bersyukur karena insting itu menjaga kita tetap sehat, bersih, dan aman secara fisik. Tapi, sebagai manusia modern yang dibekali nalar tajam dan empati yang luas, kita punya kendali penuh. Kita tidak lagi harus tunduk secara buta pada alarm dari masa lalu. Berpikir kritis memungkinkan kita untuk memilah dengan bijak; mana rasa jijik yang melindungi tubuh kita, dan mana rasa jijik yang justru meracuni pikiran kita. Pada akhirnya, memahami batasan biologi kita sendiri adalah langkah pertama yang paling manusiawi untuk menjadi individu yang lebih baik.